BTemplates.com

Trending video

Diberdayakan oleh Blogger.

Mahapena (MahasiswaPecintaAlam) Fakultas Ekonomi Universitas Jember, sejak 14 Maret 1977

PENGETAHUAN SEBELUM BERWISATA DI ALAM

          Animo berwisata terutama untuk wisata alam terbuka atau lebih terkenal dengan aktivitas alam terbuka atau kerennya aktifitas outdo...

Cari Blog Ini

About

Feature Label Area

300x250 AD TOP

Pages - Menu

Blogger templates

Blogger news

Kamis, 03 Agustus 2017

PENGETAHUAN SEBELUM BERWISATA DI ALAM


          Animo berwisata terutama untuk wisata alam terbuka atau lebih terkenal dengan aktivitas alam terbuka atau kerennya aktifitas outdor mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, banyak yang beranggapan ini terjadi karena efek film 5cm, juga karena acara MY TRIP MY ADVENTURE yang tayang distasiun televisi. Aplikasi media sosial juga memiliki pengaruh besar dalam trend aktivitas outdor, masing-masing orang berlomba untuk menunjukkan foto dengan latar belakang pemandangan bagus dengan harapan mendapatkan like yang banyak.
Dahulu, hanya segelintir orang yang melakukan aktivitas outdor dan menjadi hobi unik dari orang tersebut, orang-orang tersebut biasanya tergabung dalam kelompok pecinta alam karena memiliki kecintaan dan hobi yang sama. Namun saat orang biasapun ikut-ikutan melakukan aktivitas yang sama, bahkan tak jarang dari mereka yang tanpa persiapan dalam melakukannya. Alhasil banyak kita jumpai berita tentang kecelakaan bahkan kematian saat melakukan aktivitas outdor, ada yang tersesat digunung, ada yang tenggelam disugai, ada yang kehilangan nyawanya, dan beberapa kecelakaan lain. Kurangnya pengetahuan dan kemampuan tentang aktivitas outdor menjadi penyebab dalam kecelakaan yang terjadi, pengetahuan tentang aktifitas outdor menjadi wajib diketahui sebelum melakukan aktivitas ini karena nyawa bukan tidak mungkin menjadi taruhannya. Berikut ini adalah  hal-hal yang perlu diketahui sebelum berwisata di alam atau sebelum melakukan aktifitas alam terbuka atau aktifitas outdor, penting diketahui baik untuk wisata alam ataupun para pecinta alam.
Aktifitas alam terbuka adalah aktifitas yang dilakukan diluar ruangan yang lebih menonjolkan kedekatan dengan alam sebagai tempat beraktifitas. Macam macam aktifitas alam terbuka ada banyak, mulai dari mendaki gunung, bermain di air terjun, menyusuri pantai, memanjat tebing, mengarungi sungai, menyelam dilaut, dan aktifits yang bersentuhan dengan alam lainnya.
Manfaat melakukan aktifitas alam terbuka atau aktifitas outdor ini adalah :
1.      Mendekatkan diri kepada tuhan pencipta alam;
2.      Menumbuhkan rasa percaya diri dan melatih kepekaan panca indra;
3.      Memperbaikai budi pekerti;
4.      Mempertebal ketabahan diri dan ulet dalam menghadapi tantangan;
5.      Mengukuhkan disiplin, kerjasama dan sifat ksatria.
Lalu apa saja kemampuan yang diperlukan dalam melakukan aktifitas alam terbuka atau aktifitas outdor, seorang pakar pendidikan alam terbuka Colin Mortlock, mengkategorikan empat kemampuan yang diperlukan oleh seorang yang akan melakukan aktifitas alam terbuka atau aktifitas outdor.

  1. Kemampuan Teknis
Berhubungan dengan ritme dan kesesimbangan gerakan serta efisiensi penggunaan perlengkapan.
  1. Kemampuan kebugaran
Menyangkut kebugaranspesifik yang dibutuhkan untuk kegiatan tertentu, kebugaran jantung dan sirkulasinya, serta kemampuan pengkondisian tubuh terhadap tekanan lingkungan alam.
  1. Kemampuan kemanusiaan
Pengembangan sikap positif ke segala aspek untuk meningkatkan kemampuan. Hal ini mencakup determinasi (kemampuan), percaya diri, kesabaran, konsentrasi, analisa diri, kemandirian, serta kemampuan untuk memimpin dan dipimpim, awareness  dan respect.
  1. Kemampuan pemahaman lingkungan
Pengembangan kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan yang spesifik.
Selain kemampuan diperlukan, perencanaan perjalanan juga terhitung penting dalam melakukan aktifitas alam terbuka, kebanyakan orang merasa ribet dan mengenggap remeh perencanaan karena dianggap selalu berahir gagal bila banyak melakukan perencanaan, banyak yang lebuh senang berimprovisasi. Padahal kegiatan perjalanan yang baik adalah kegiatan yang terencana, pepatah mengakatan jika kamu berencana untuk gagal maka kamu akan gagal, tapi kamu berencana untuk berhasil maka kam akan berhasil. Kunci sukses tercapainya tujuan perjalanan terutama perjalanan aktifitas outdor adalah dengan membuat perencanaan perjalanan yang baiak. Perencanaan perjalanan adalah seluruh proses merencanakan tahapan kegatan mulai dari pra sampai pasca perjalanan. Manfaatnya adalah resiko yang disebabkan oleh factor bahaya dan ketidak pastian dapat diminimalisir, semua dapat diukur secara spesifik dan dicarikan solusi serta dapat membuat rencana cadangan yang terbaik. Tuhan yang mempunyai taksir, tapi manusia yag berusaha, melakukan perencanaan adalah salah stu usaha yang dapat manusia lakukan. Maka buatlah rencana sedetail mungkin dan kerjakan dengan sungguh-sungguh.
            Bagaimana cara membuat rencana perjalanan yang baik? berikut ulasannya.
Ketika datang ide untuk berpetualang di alam dalam otak, maka buatlah konsep umum untuk perencanaannya, yaitu dengan 5W 1H.
·         WHAT (apa)
Menjelaskan bentuk perjalanan, contoh : pendakian kepuncak gunung
·         WHERE (dimana)
Menjelaskan lokasi perjalanan, contoh : gunung argopuro
·         WHO (siapa)
Menjelaskan siapa saja yang terlibat didalam perjalan, contoh : 5 orang
·         WHY (mengapa)
Menjelaskan tentang tujuan diadaknnya perjalan, contoh : untuk liburan
·         HOW (bagaimana)
Menjelaskan tengtang bagaimana sebuah perjalanan dilakukan, contoh : pendakian 5 orang ke gunung Argopuro via jalur baderan bermi, hari pertama mulai mendaki dari pos baderan, bermalam di Cikasur, hari kedua melanjutkan perjalanan ke Alun-alun Lonceng dan bermalam disana, hari keempat muncak dan kemudian turun di taman hidup, hari kelima pulang melalui bremi.
Lalu bagaimana tahap-tahap melakukan perncanaan perjalanan itu? Secara sederhana tahapan merencanakan perjalanan itu dapat dijabarkan seperti berikut :
       I.            Pra perjalanan
·         Mencari data informasi secara lengkap
·         Mengurus administrasi dan perizinan
·         Mengumpulkan dana
·         Memenuhi peralatan dan menyiapkan perbekalan
·         Meyiapkan mental, fisik, dan keterampilan
    II.            Saat Perjalanan
·         Menganalisa jalur lintasan
·         Membuat jalur lintasan
·         Merencanakan waktu dan kecepatan tempuh
·         Menyusun rencana logistic
·         Menyusun rencana transportasi dan akomodasi
 III.            Pasca perjalanan
·         Megatur waktu istirahat dan cek kesehatan
·         Menyelesaikan administrasi dan lporan
·         Mengolah hasil dokumentasi
·         Mengurus peralatan perjalanan.

Dengan mengetahui kemampuan yang harus dimiliki saat melakukan kegiatan alam terbuka atau aktifitas outdor atau wisata alam, dan melakukan perencanaan sebelum melakukan kegiatan, diharapkan kecelakaan yang tak diinginkan apapun bentuknya dapat dihindarkan atau dapat diminimalisir resikonya. Alam diciptakan tuhan untuk dinikmati oleh makhluknya, tapi juga harus dijaga agar keindahanya dapat bertahan lama. Jadi bagi anda yang akan melakukan wisat alam, janganlah merusaknya demi kesenangan sesaat. Salam lestari!!!
oleh : si.aldan
Sumber : buku panduan praktis navigasi darat MAHAPENA FEB Univ. JEMBER

Rabu, 02 Agustus 2017

SEPENGGAL CERITA DARI PASEBAN



            Kamis 27 juli 2017 kemarin, kami mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa timur yaitu pelatihan pemetaan parsipatif di desa paseban kabupaten jember. peserta dari pelatihan ini adalah warga desa paseban, meliputi perangkat desa, kepala dusun (kasun), karang taruna dan juga kami dari MAHAPENA FEB Univ. Jember. Pelatihan ini bertujuan untuk mengetahui batas wilayah desa paseban yang mana nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu alat perjuangan mereka dalam menolak tambang. Sementara untuk kami wakil dari MAHAPENA yang merupakan anggota WALHI yang berada di jember, hal ini adalah salah satu bentuk pengabdian kami sebagai organisasi pecinta alam.
para peserta pelatihan
            Desa Paseban sendiri merupakan salah satu daerah yang berada di pesisir pantai selatan jawa, desa tersebut merupakan salah satu kawasan yang mengandung mineral berupa pasir besi yang diinginkan oleh banyak pengusaha tambang. Dalam Kepmen ESDM No. 1204 K/30/MEM/2014 tentang penetapan wilayah pertambangan jawa dan bali, wilayah pantai  pesisir selatan jawa berwarna biru terang yang artinya kawasan pertambangan akan di operasikan. Rencana Tata Ruang Wilayah kabupaten jember juga menyebutkan bahwa wilayah pesisir selatan jember (sepanjang garis pantai paseban sampai merubetiri) adalah wilayah minerba yang dapat dioperasikan tambang untuk mengambil hasil alamnya. Masyarakat desa paseban tidak ingin pesisir pantainya ditambang, karena mereka sadar bahwa hal itu dapat merusak ekosistem dan mengganggu aktivitas petanian mereka, bersama mereka mendirikan AMPEL (Asosiasi Masyarakat Peduli Lingkungan) sebagai forum dan wadah pemersatu mereka dalam mencapai kepentingan bersama. Banyak aksi yang telah mereka lakukan, mulai dari aksi demo sampai yang cukup anarkis yaitu pembakaran pos keamanan.
Pelatihan pemetaan yang diberikan oleh WALHI  menjadi salah satu cara pendampingan dalam perjuangan bersama menyelmatkan lingkungan. Peta yang dibuat bukan hanya memuat tentang batas wilayah, tapi juga berisi informasi tentang kawasan pertanian, kawasan rentan bencana, kawasan potensi ekonomi berbasis lingkungan, bagitu yang disampaikan oleh Rere seorang eksekutif WALHI saat membuka acara pelatihan pemetaan tersebut. Acara pelatihan ini berpusat di kediaman pak Cip salah satu tokoh AMPEL.
 
Hari pertama pelatihan diisi dengan sosialisasi tentang apa itu peta dan semua seluk beluknya. Kemudian setelah penjelasan panjang lebar oleh mas Ucok sebagai pemateri pelatihan, ada sesi diskusi. Warga menanyakan tentang fungsi pemetaan tersebut dan hubungannya dengan aksi menolak tambang mereka, mas ucok menjelaskan bahwa peta merupakan sebuah alat dimana alat tersebut bisa jadi kebakan bahkan bisa menyebabkan malapetaka, peta itu nantinya dapat digunakan warga sebagai senjata untuk menolak tambang apabila nanti mengajukan gugatan atau penolakan secara hokum ke Pemda maupun DPR jember atau bahkan pemerintah diatasnya. Namun sebagai alat, pemetaan juga di gunakan oleh perusahaan tambang dalam industrinya. Setelah diberikan penjelasan, antusiasme
pengenalan peta
warga dalam mengikuti pelatihan meningkat. Pada hari pertama hanya diisi dengan sosialisasi dan diskusi bersama, tidak menyentuh bagian tekniknya. Pada malam hari, pemuda dari karang taruna yang tadi siang tidak menghadiri sosialisasi menghampiri kami (dari MAHAPENA dan anggota WALHI yang lain)  di rumah pak Cip tempat kami menginap, malam itu mereka menyampaikan ketertarikannya dengan acara pelatihan pemetaan dan akan mengutus anggotanya untukmengikuti pelatihan, mereka bilang bahwa yang berjuang bukan cuma orang yang tua tetapi yang muda juga harus ikut berjuang karena pemuda yang akan meneruskan perjuangan kelak. Hal ini disambut baik oleh kami, karena pemahaman teknologi para pemuda lebih baik dari pada orang-orang yang tua.

Keesokan harinya yaitu hari jum’at 28 juli, peserta pelatihan yang terdiri dari perangkat desa, kasun, anggota karang taruna, serta kami mendapat penjelasan teknis tentang pemetaan. Berbeda dengan kami di MAHAPENA yang melakukan pemetaan untuk aktivitas olah raga alam bebas kami, dipelatihan ini mengulas teknik pemetaan dalam membuat peta untuk kepentingan advokasi lingkungan. Alat yang digunakan adalah GPS (anak gunung pasti kenal) dan aplikasi sistem informasi geografis (SIG, dalam bahasa inggris GIS), juga informasi dari warga yang memuat cerita budaya daerah tersebut. Selanjutnya para peserta dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan jumlah dusun yang ada yaitu dusun Bulurejo, dusun Sidomulyo, dusun Balekambang, dan dusun Paseban sendiri untuk menentukan titik koordinat batas luar desa, masing masing kelompok dipimpin oleh kasun masing-masing sebagai pihak yang mengerti akan daerahnya. Koordinat batas-batas luar desa berfungsi untuk mengetahui letak dan luas sebenarnya dari pada batas yang terbuat dari patok batas alam seperti pohon, juga nantinya dapat dimasukkan dalam database peta yang beredar diinternet.pengambilan titik koordinat dimulai setelah ibadah shalat jum’at sampai sore hari sekitar pukul 3 sore, pengambilan titik koordinat tidak sampai petang karena warga yang mempunyai kesibukan sebagai petani dan pemelihara ternak, data koordinat kemudian dikumpulkan dan diolah oleh mas Ucok. Pemuda karang taruna pada malam hari diberikan pelatihan mengolah data menggunakan aplikasi sistem informasi geografis (GIS) dengan menggunakan data yang telah dikumpulkan tadi siang sebagi sumbernya.

          Pengambilan titik koordinat batas luar desa selanjutnya dilakukan pada hari sabtu siang karena pihak perangkat desa masih mengatur pembagian bantuan beras bulog, hasil dari olah data koordinat kemarin sebelumnya ditunjukkan kepeserta untuk mendapatkan penyesuaian sesuai dengan apa yang diketahui peserta. Kali ini tidak dibagi menjadi empat seperti kemarin, tetapi menjadi dua kelompok, karena tinggal dua dusun yang belum selesai, ini merupakan pengambilan data koordinat terahir. Dalam peta juga memuat informasi sosial didalamnya, maka dari itu selain mengabil data koordinat, data informsi dari warga setempat juga di ambil kemudian diolah menjadi satu kesatuan, mas Ucok bilang “informasi sosial atau cerita dibalik tempat tersebutlah yang mahal dan sangat penting karena itu merupakan bagian dari adat budaya masyarakat setempat”, Pengambilan data sosial di lakukan dengan proses wawancara dan juga dari penjelasan peserta yang mengikuti pelatihan. Selanjutnya, data diolah sampai hari minggu, dan dipresentasikan ke warga pada hari senin dibalai desa Paseban.
pengambilan titik koordinat
Kami dari MAHAPENA hanya mengikuti kegiatan tersebut sampai pada hari minggu 30 juli, dari pengalaman mengikuti pelatihan tersebut kami dapat pemahaman baru tentang menjaga lingkungan atau konservasi, bukan cuma sekedar anveg, plaster cast dan herbarium. Tapi juga sikap menolak dan membela saat ekosistem alam dirusak oleh tambang yang saat ini masih memberikan banyak bencana daripada uang keuntungan yang dihasilkan. Bukan kami tidak menerima tambang, tapi yang kami inginkan adalah menggunakan sumber daya alam sesuai dengan kebutuhannya (kode etik pecinta alam) dan diterapkannya ekonomi berkelanjutan yang banyak di ajarkan dibangku-bangku pembelajaran.
 

Selasa, 11 Oktober 2016




Cerita Perjalanan Aplikasi 2016 Mahapena (Dalam Rangka Memperingati HUT RI ke-71 & Bersih - bersih Gunung)


Jumat, 12 Agustus 2016
            Hari ini merupakan hari ke-0 dari kegiatan aplikasi yang dilakukan Anggota Muda Mahapena angkatan 39. Aplikasi berupa Bersih – Bersih Gunung dan Upacara Peringatan HUT Republik Indonesia ke-71 ini diikuti oleh 22 orang baik anggota muda, anggota biasa, serta dua orang partisipan (tamu Mapala Palembang). Sejak pagi sudah terlihat kesibukan di Sekretariat Mahapena untuk melakukan karantina barang. Tim logistik sibuk menyiapkan barang – barang yang akan dibawa untuk aplikasi selama 7 hari ke depan. Sebagian lagi berbelanja konsumsi dan logistik lain yang belum tersedia di Sekretariat Mahapena. Setelah pengecekan logistik, satu persatu dari kami beranjak tidur.
Sabtu, 13 Agustus 2016
            Bisa dikatakan pagi – pagi sekali, sekitar pukul 02.00 WIB beberapa Anggota Muda berbelanja ke Pasar Tanjung untuk membeli sayuran. Sebelumnya, sayuran tersebut rencananya akan dibeli di salah satu Anggota Muda, namun karena dia berhalangan hadir maka kami terpaksa berbelanja sendiri. Sementara anggota lain masih terlelap dalam mimpi indahnya. Setelah matahari mulai terasa panas melalui celah – celah atap Sekretariat, mereka bangun satu persatu.
            Agenda pagi hari ini adalah membagi logistik makanan sekaligus pengemasan agar sayur yang dibawa tidak busuk dan lebih mudah dibawa. Sayur – sayur dibungkus dan dilapisi dengan kertas koran. Beberapa lagi memasukkan beras ke dalam botol – botol air mineral berukuran besar. Semua sibuk dengan tugas masing masing hingga waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. kegiatan selanjutnya adalah packing barang – barang bawaan kami. Untuk packing dilakukan oleh anggota laki- laki terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar laki – laki bisa membawa lebih banyak barang dibanding perempuan. Acara packing selesai pukul 15.00 WIB dan dilanjutkan dengan persiapan perjalanan menuju start pendakian kami yakni di desa Bremi, kec. Krucil kab. Probolinggo. Sebelum berangkat, kami sempat berfoto bersama dan sholat Ashar di Mushola Fakultas Ekonmi dan Bisnis Universitas Jember. Pukul 15.15 WIB, kami berangkat menuju Bremi dengan mengendarai sepeda motor.
            Kami tiba di Bremi malam hari pukul 19.21 WIB. Perjalanan terasa agak lambat karena kami dua kali berhenti untuk membeli buah dan makan malam. Beberapa orang dari rombongan juga terpisah sehingga kami harus menunggu semua anggota lengkap. Kami singgah di rumah Pak Arifin atau lebih akrab disapa Cak Ripin untuk istirahat dan menitipkan sepeda motor. Disana kami bertemu dengan tim ESH dari Cozmeed yang juga akan melakukan pendakian di pegunungan Argopuro. Setelah berbincang – bincang sebentar kami segera beranjak dari kediaman Cak Ripin dan menuju ke lokasi camp yang berada di taman dekat pintu gerbang Taman Hidup. Sesampainya disana kami segera membangun camp dan dilanjutkan evaluasi serta breafing singkat untuk kegiatan besok pagi. Tepat pukul 21.40 WIB kami beristirahat di tenda sesuai dengan kelompok masing – masing.
Minggu, 14 Agustus 2016
            Seperti yang sudah disepakati dalam breafing, kami bangun pukul 04.00 WIB. Aktivitas pertama pagi ini adalah MCK, sholat, makan dan packing. Kegiatan MCK berakhir pukul 06.00 WIB dan dilanjutkan dengan makan pagi. Untuk sarapan pagi kami sengaja tidak memasak sendiri dan memesan makanan di rumah Cak Ripin dengan alasan efisiensi waktu dan bahan makanan yang dibawa. Agar lebih cepat, waktu makan pagi ini dibagi dalam 2 sesi. Bagi yang tidak makan melanjutkan packing agar bisa berangkat sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Setelah semuanya siap, kami melakukan streaching selama kurang lebih 10 menit. Daaan.... mulailah petualangan kami di Pegunungan Argopuro, rumah kedua Mahapena.
            Pergerakan pagi hari ini terasa menyenangkan karena pemandangan kebun sekitar yang juga enak dipandang. Banyak petani yang tengah bekerja di sawahnya dan beberapa kali kami juga berpapasan dengan Ibu – Ibu yang membawa susu sapi menuruni bukit. Semakin masuk ke dalam, semakin sedikit warga sekitar yang kami temui. Tak berselang lama perjalanan kami kembali terhambat karena Argopuro mulai diguyur hujan. Jalan setapak yang awalnya sudah susah dilewati karena bekas roda sepeda motor, semakin sulit dilewati karena medan yang licin dan bagian tengah jalan yang sudah berubah menjadi sungai. Beberapa dari kami bahkan sempat terjatuh dan terpeleset. Namun hal ini tidak mengurangi semangat kami untuk tetap melanjutkan pergerakan. Hujan berlangsung kurang lebih sekitar 1,5 jam. Setelah hujan reda, kami berhenti sejenak untuk melepas mantel yang kami gunakan sebelum kembali melanjutkan pergerakan. Pukul 11.33 WIB kami istirahat siang dan makan snack serta buah yang kami bawa.
            Usai istirahat siang kami kembali melanjutkan perjalana. Lagi – lagi perjalanan kami ditemani hujan sehingga kami kembali mengenakan mantel. Setelah istirahat siang ini, rombongan terpecah menjadi 2 kelompok karena ada salah satu anggota kami yang sakit. Untuk rombongan yang berada di depan melanjutkan perjalanan menuju taman hidup dan rombongan satunya lagi menemani anggota yang sedang sakit dan mengobatinya. Ada juga yang sempat mengeluh lapar karena saat istirahat siang kami hanya makan biskuit. Akhirnya kami berhenti sejenak untuk makan snack kembali karena hanya itu makanan siap saji yang kami bawa. Sesuai dengan rencana operasional, kami tiba di tempat camp pertama kurang lebih pukul 15.05 WIB. Sesampainya di tempat camp kami segera mendirikan tenda dan mengambil air di Danau Taman Hidup, sedangkan anggota perempuan mulai memasak makan malam dan menyiapkan minuman hangat. Kami juga sempat mencuci sepatu dan baju lapang yang kotor terkena lumpur. Kegiatan masak ini selesai pukul 17.38 WIB. kami segera duduk merapat untuk makan bersama. Hal inilah yang selalu menyenangkan ketika kami melakukan pendakian. Makan bersama – sama menggunakan kertas minyak yang disusun memanjang. Namun kali ini antara laki – laki dan perempuan disendirikan karena porsi dan kecepatan makan kami yang berbeda. Tak sampai 15 menit semua makanan sudah bersih tak bersisa. Acara kemudian dilanjutkan dengan evalusi dan breafing seperti biasanya. Setelah semuanya selesai, kami masuk ke tenda masing – masing dan beristirahat.


Senin, 15 Agustus 2016
            Pagi ini kami bangun seperti biasanya yakni pukul 04.00 WIB. Tim perempuan bergegas keluar dari tenda dan menyiapkan sayur serta peralatan masak. Beberapa anggota laki – laki yang juga ikut bangun membantu mengambilkan air di danau untuk masak. Sedangkan yang lain baru bangun ketika makanan sudah hampir siap. Seperti sebelumnya, kami makan bersama – sama di depan tenda. Usai makan, kami mulai membongkar tenda dan packing barang masing – masing. Pukul 08.31 WIB, kami mulai pergerakan menuju tempat camp kedua, yakni di Cisentor.
            Pergerakan hari ini lebih ekstrim dari sebelumnya, karena jarak yang lebih jauh. Meskipun trek yang dilalui lebih mudah dari hari pertama, namun kami harus berjalan selama kurang lebih 12 jam, sehingga diperkirakan sampai di Cisentor pada malam hari. Pergerakan kami saat pagi hari bisa dibilang cukup cepat. Pukul 10.00 WIB kami berhenti di daerah yang cukup lapang untuk menunggu anggota yang tertinggal sambil menulis plakat himbauan dan penunjuk jalan. Setelah semua berkumpul, ternyata ada satu anggota kami yakni tamu dari Sumatra tidak bisa melanjutkan perjalanan. Dia mengatakan tidak sanggup untuk ikut sampai ke Puncak dan memilih untuk kembali turun ke Bremi. Setelah berunding sebentar, akhirnya disepakati bahwa satu temannya yang sama – sama dari Sumatra dan salah satu anggota lagi dari tim kami mengantarkan kembali ke Bremi. Kami kembali melanjutkan perjalanan dengan jumlah anggota 19 orang. Siang harinya kami beristirahat di Cemara Lima. Makan siang kami tetap sama seperti sebelumnya yakni biskuit dan buah – buahan, namun ada tambahan baru yakni ubi rebus yang sebelumnya diberi oleh peserta dari Cozmeed. Setelah istirahat dirasa cukup, kami kembali melanjutkan pergerakan karena kami juga mulai kedinginan. Banyak diantara kami yang mulai kelelahan dan kelaparan. Bahkan dua dari anggota kami sakit dan barangnya terpaksa dibawakan anggota laki – laki. Perjalanan kali ini dibagi menjadi dua tim dikarenakan banyaknya pendaki yang akan mendirikan camp di Cisentor namun tempat camp yang tersedia tidak begitu luas, ditakutkan nantinya kami tidak mendapatkan tempat camp yang nyaman untuk beristirahat. Akhirnya, kami memutuskan untuk 4 orang dari anggota kami untuk melakukan pergerakan terlebih dahulu ke Cisentor dengan membawa tenda. Dimaksudkan dengan pergerakan mereka yang cepat menuju Cisentor, sehingga sesampainya di Cisentor mereka dapat membangun tenda dan beristirahat sambil menunggu tim yang lainnya tiba di tempat camp. 4 orang yang sudah berangkat tadi tiba di Cisentor pada pukul 17.38 WIB. Menjelang maghrib, tim 2 berhenti di Padang Savana untuk istirahat dan menghormati waktu maghrib. 15 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Cisentor.
            Kami tiba di Cisentor pukul 19.00 WIB. Kami bergegas untuk memasak makan malam sedangkan laki – laki menghatkan diri di tenda sambil membuat kopi. Karena semua juga sudah lelah, kegiatan masak baru berakhir pada pukul  22.10 WIB. Dan tidak seperti malam sebelumnya, kami makan di tenda masing – masing dengan pembagian satu wadah untuk 3 orang bagi perempuan dan bagi laki – laki 1 wadah untuk 2 orang. Usai makan kami langsung istirahat tanpa evaluasi terlebih dahulu karena sudah kelelahan dan malam sudah larut. Disepakati bahwa evaluasi dan breafing akan dilakukan besok pagi sebelum memulai pergerakan.
Selasa, 16 Agustus 2016
            Bisa dikatakan hari ini kami lebih santai dalam memulai kegiatan daripada hari sebelumnya. Jika sebelumnya kami bangun pukul 04.00 WIB, hari ini kami bangun lebih siang yakni pukul 05.28 WIB. Untuk masak dan MCK kami juga bisa lebih santai karena sebelumnya kami sudah mendapat instruksi dari komandan operasional bahwa perjalanan hari ini hanya akan memakan waktu selama kurang lebih 4 jam. Masak dan MCK berakhir pukul 09.40 WIB dan dilanjutkan dengan makan hingga pukul 10.05 WIB. Setelah makan kami mulai packing dan tak lupa breafing sebelum pergerakan. Untuk streaching seperti biasanya berlangsung kurang lebih 10 menit. Tak lupa sebelum berangkat kami memasang plakat yang telah kami tulis sebelumnya. Plakat ini berisi himbauan agar para pendaki tidak membuang sampah sembarangan dan membawa pulang sampahnya. Kami melakukan perjalanan ke Alun – Alun Lonceng pukul 10.55 WIB dan sempat beristirahat sejenak di Rawa Embik. Disini kami bertemu dengan 3 orang anggota Mahapena yang memang sebelumnya sudah mengatakan ingin ikut kegiatan aplikasi ini, hanya saja mereka tidak berangkat bersama kami dan baru bergabung di Rawa Embik ini. Setelah istirahat makan siang kami kembali melanjutkan perjalanan ke Rawa Embik. Jarak dari Rawa Embik ke Alun – Alun Lonceng sebenarnya tidak terlalu jauh hanya saja kami harus melalui tanjakan yang cukup ekstrim dan menguras tenaga, yang kami sebut dengan istilah “the big stone”. Setelah melalui tanjakan tersebut jalan sudah mulai landai dan sempat melewati savana yang tidak terlalu luas.
            Pukul 15.28 WIB kami sudah tiba di Alun – Alun Lonceng. Kami segera mendirikan camp dan masak. Beberapa anggota dari kami ada yang ditugaskan untuk melakukan survey terlebih dahulu ke Puncak Rengganis mengenai lokasi yang akan ditempati upacara esok hari. Sebagian lagi sibuk memasak untuk menyiapkan makan malam dan membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh kami malam hari nanti. Semua selesai pada pukul 19.35 WIB, kami melakukan makan bersama di dekat api unggun dengan pembagian yang sama seperti di Cisentor. Setelah makan malam kami duduk melingkar di dekat api unggun untuk evaluasi kegiatan hari ini. Selain itu juga diadakan breafing untuk kegiatan inti kami besok yakni upacara bendera untuk memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 71. Setelah disepakati lingkaran mulai berkurang satu – persatu. Namun masih ada satu kejutan yang kami siapkan untuk teman kami. Hari ini merupakan hari ulang tahun salah satu angota muda, dan kami sudah menyiapkan sediki kejutan kecil untuknya. Dan kejutan tersebut kami berikan ketika orang – orang masih berkumpul dalam lingkaran api unggun. Usai merayakan hari kelahiran sahabat kami, kami bergegas untuk beristirahat. Namun ada beberapa anggota belom beristirahat yang masih menyelesaikan plakat dan menyiapkan kelengkapan untuk acara upacara esok harinya.
Rabu, 17 Agustus 2016
            Pagi yang cerah secerah hati kami menyambut hari jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta. Kami bangun tepat waktu seperti biasanya yakni pukul 04.00 WIB dan mulai masak untuk sarapan pagi. Beberapa anggota dari kami naik ke Puncak Rengganis, tempat kami melakukan upacara nanti untuk menyiapkan tempat dan instalasi alat yang akan digunakan. Dikarenakan masakan masih belom matang, kami membekali susu hangat untuk anggota yang akan menyiapkan instalasi alat di lokasi upacara. Seusai melakukan persiapan, beberapa anggota ini kembali ke tempat camp untuk melakukan makan pagi. Kegiatan masak diakhiri pukul 07.35 WIB dan dilanjutkan dengan makan hingga pukul 08.05 WIB. Selesai masak kami mulai menyiapkan perlengkapan upacara dan memakai dresscode yang telah ditentukan. Untuk laki – laki memakai atasan berwarna cream atau putih dan bawahan cream atau hitam, sedangkan untuk perempuan memakai kebaya masyarakat tempo dulu. Persiapan ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Setelah semuanya siap kami bergegas menuju Puncak Rengganis. Jarak dari Alun – Alun Lonceng menuju Puncak Rengganis sebenarnya tidak terlalu jauh, namun tetap memakan waktu lama karena kebaya yang dikenakan perempuan sedikit menyulitkan untuk berjalan. Sesampainya kami segera mengambil posisi masing – masing sesuai dengan yang disepakati dalam breafing. Kami melakukan gladhi bersih satu kali sebelum benar – benar siap melakukan upacara. Ketika upacara dimulai, semua anggota tampak benar – benar menjiwai perannya masing – masing dan menghayati selama proses kegiatan. Mulai dari pengibaran bendera merah putih, pembacaan Undang – Undang Dasar hingga pembacaan teks proklamasi diikuti dengan baik. Semua juga ikut menyanyikan lagu wajib nasional yang telah ditentukan. Hampir tidak ada kendala selama upacara berlangsung, hanya ada salah satu anggota yang pingsan karena mencium bau belerang. Beruntung ada tim yang sudah tanggap memberikan pertolongan sehingga tidak sampai mengganggu kegiatan upacara.
            Upacara selesai sekitar pukul 10.00 WIB. Kami turun kembali ke tempat camp dan membagi logistik konsumsi dan yang lain karena hari ini kami dibagi menjadi 2 tim. Untuk tim pertama yang beranggotakan 12 orang turun kembali di Bremi dan membawa motor yang dititipkan di rumah Cak Ripin, sedangkan untuk tim 2 yang beranggotakan 10 orang turun di Baderan. Setelah pembagian logistik selesai, kegiatan dilanjutkan dengan packing dan membersihkan lingkungan sekitar tempat camp kami. Beberapa orang yang kebetulan camp disitu juga kami ingatkan agar membersihkan tempat camp sebelum kembali turun. Sampah yang kami kumpulkan lalu kami bakar di tempat sisa api unggun semalam. Setelah bersih – bersih selesai kami memasang papan penunjuk menuju Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Kami juga memasang plakat yang berisi himbauan bahwa kita harus menjaga alam agar alam juga bisa bersahabat dengan kita. Plakat tersebut kami pasang di tempat yang strategis sehingga siapapun yang melintas di daerah itu bisa membaca dengan jelas. Kemudian kami  berkumpul untuk berdo’a dan bersalam – salaman sebelum akhirnya berpisah sesuai dengan tujuan masing – masing.

Catatan Perjalanan Tim 1
            Setelah tim 2 berangkat, kami melanjutkan bersih – bersih sekitar lingkungan camp sejenak. Sekitar 10 menit kemudian kami baru mulai pergerakan. Namun tak sampai 10 menit kami berjalan pergerakan dihentikan karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Kami pun beristirahat dan berhenti untuk menghormati waktu dhuhur di tempat yang tak jauh dari Alun – Alun Lonceng. Tak lama kemudian perjalanan kembali dilanjutkan. Jalan yang kami lalui kali ini sedikit menghambat pergerakan kami. Jalur yang terlalu curam membuat kami harus berjalan setengah jongkok untuk menjaga keseimbangan dan mempermudah kami untuk menuruni puncak. Namun tak semua jalan curam dan susah untuk dilalui. Ketika kami bertemu dengan jalan yang landai dan mudah untuk dilalui kesempatan itu kami gunakan untuk lari. Baik laki – laki maupun perempuan sama – sama berlari karena kami harus mengejar target camp yakni di Taman Hidup, karena sepanjang jalan yang kami lalui tidak ada titik mata air. Tak lupa kami memperhatikan sekitar apakah ada sampah yang tertinggal atau tidak. Perjalanan kembali terhenti ketika kami berada di jalan yang mengarah ke Cemara Lima, dikarenakan ada salah anggota kami yang sakit perut. Sekitar setengah jam kemudian, setelah sakit salah satu anggota kami berkurang, kami kembali melanjutkan pergerakan kembali hingga berada di sebuah persimpangan menuju Cisentor dan Puncak Argopuro. Disini kami berhenti untuk makan siang karena saat istirahat siang tadi kami belum makan siang.
            Acara makan siang pun usai. Kami kembali melanjutkan pergerakan hingga tiba di Cemara Lima. Disini kami berhenti untuk membersihkan lingkungan sekitar Cemara Lima. Lokasi ini kami pilih sebagai salah satu titik konsentrasi pembersihan karena sampah disini cukup banyak. Setelah bersih – bersih selesai kami melanjutkan pergerakan kembali menuju Taman Hidup. Sebelumnya, kami sempat berhenti sejenak di perjalanan untuk istrahat. Kami tiba di Taman Hidup pukul 16.35 WIB . Begitu tiba di Taman Hidup hal pertama yang kami lakukan adalah memasang plakat himbauan yang berisikan laraangan membuang sampah sembarangan. Ini kami lakukan pertama kali karena saat kami tiba di Taman Hidup keadaan sekitar sangat memprihatinkan. Banyak sampah – sampah plastik berceceran yang sengaja ditinggalkan oleh para pendaki. Setelah pemasangan plakat selesai kegiatan kami selanjutnya adalah mendirikan camp, masak, makan bersama, dan diakhiri dengan evaluasi serta breafing. Dalam evaluasi ini komandan menyampaikan agar masing- masing anggota membawa kantong plastik sendiri – sendiri. Hal ini dimaksudkan agar tiap anggota bisa mengumpulkan sampah masing – masing tanpa merepotkan anggota yang lain. Setelah evaluasi dan breafing selesai, kami menuju tenda masing - masing untuk istirahat.

Kamis, 18 Agustus 2016
            Pagi ini kami bangun agak siang yakni pukul 06.00 WIB. Hal ini dikarenakan banyak anggota yang kelelahan setelah pergerakan kemarin. Dan seperti yang tertera dalam ROP, kegiatan kami hari ini diawali dengan masak dan MCK. Sebagian anggota yang tidak masak menuju ke Danau Taman Hidup untuk cuci muka dan membersihkan diri. Kegiatan masak dan MCK ini berakhir pukul 10.13 WIB. Acara dilanjutkan dengan makan pagi. Kami makan bersama di depan tenda seperti biasanya. Setelah makan selesai kami segera membongkar tenda dan packing barang – barang bawaan kami. Anggota yang telah selesai packing barang bawaannya segera menyebar ke sekitar lingkungan Taman Hidup untuk mengumpulkan sampah. Hampir di setiap sudut ditemukan sampah yang tidak bisa diuraikan. Ternyata masih banyak pendaki yang belum memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kami pun memungut semua sampah itu karena banyak sampah yang dalam basah. Dan untuk mengurangi bawaan, sampah yang kami kumpulkan sepanjang perjalanan kemarin kami bakar di Taman Hidup. Setelah bersih – bersih selesai, kami melakukan Streaching kemudian  memasang plakat penunjuk lokasi yang bertuliskan Taman Hidup. Plakat ini kami pasang di tempat yang strategis agar ketika para pendaki yang belum mengerti memasuki kawasan Taman Hidup segera mengetahui bahwa tujuan mereka sudah dekat.
            Kami memulai pergerakan hari ini pada pukul 11.15 WIB. Pergerakan hari ini bisa dikatakan mudah karena jalan yang dilalui tidak terlalu curam dan cuaca juga cerah. Disepanjang jalan kami kembali menemukan sampah yang berceceran sehingga kami melakukan pergerakan sambil memunguti sampah – sampah tersebut. Kami berhenti ketika jarum jam menunjukkan pukul 13.10 WIB. Kami lalu istirahat sejenak sambil makan snack yang  kami bawa. Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan hingga Bremi. Setibanya di Bremi kami segera melakukan kegiatan ishoma dan mengambil sepeda motor kami. Sampah yang kami kumpulkan dari Taman Hidup dan sepanjang perjalanan tadi kami tinggal di rumah Cak Ripin. Setelah dirasa cukup, kami pun berfoto dan kemudian meninggalkan Bremi dan kembali menuju Sekretariat Mahapena F.E Univ. Jember.
            Selama perjalanan menuju Jember kami mengalami sedikit kendala yakni beberapa ban sepeda motor anggota kami bocor sehingga perjalanan sedikit lebih lambat. Kami tiba di Sekretariat pukul 21.10 WIB. setelah tiba kami segera membersihkan diri dan beranjak istirahat untuk mengobati rasa lelah kami.
Jumat, 19 Agustus 2016
            Agenda hari ini adalah menjemput tim 2 ke rumah salah satu anggota muda Mahapena di daerah Bessuki, Situbondo. Sesuai kesepakatan kami menjemput anggota tim 2 setelah waktu sholat Jumat. Dan pagi hari kami manfaatkan untuk beristirahat karena perjalanan yang kami tempuh nanti juga lumayan jauh.pukul 13.50 WIB, kami berangkat menuju Besuki.
Pukul 16.15 WIB kami tiba di rumah Alvian yang berada di Situbondo. Setibanya di Besuki kami disambut dengan berbagai hidangan makanan. Kami lalu makan sambil bertukar cerita tentang perjalanan selama kegiatan aplikasi. Pukul 18.40 WIB, kami berangkat menuju Sekretariat Mahapena. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam dan tidak ada kendala. Tiba di Sekretariat Mahapena kami beristirahat sejenak sambil menunggu semua anggota lengkap. Setelah siap, kami menuju ke halaman depan untuk mengucap syukur atas selesainya aplikasi anggota muda Mahapena 2016. Aplikasi kami ditutup dengan tasyakuran yakni memasak ikan bakar bersama, yang sebelumnya sudah dibeli dari Besuki, Situbondo.

Catatan Perjalanan Tim 2

Rabu, 17 Agustus 2016
          Pukul 11.36 WIB tim 2 melakukan pergerakan terlebih dahulu melalui jalur yang telah dilalui sehari sebelumnya. Kami beristirahat siang di dekat daerah Rawa Embik karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 12.41 WIB. Setelah makan siang kami kembali melanjutkan perjalanan hingga perjalanan kami terhenti sejenak karena ada salah satu anggota tim kami yang terkilir. Ahirnya kami berhenti sekitar 10 menit untuk mengobatinya. Perjalanan berlanjut, setibanya di Cisentor kami berhenti untuk membersihkan lingkungan sekitar Cisentor dan mengambil air. Sampah di kawasan Cisentor tidak terlalu banyak, sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk mengumpulkan sampah disini. Setelah dirasa bersih kami melanjutkan pergerakan menuju tempat camp selanjutnya yakni di Cikasur.  Pergerakan menuju Cikasur dilanjutkan, kami bersemangat menuju tempat camp ini karena menurut cerita tampat ini sangat bagus. Dan ternyata sesuai dengan ekspektasi kami, tempat ini Maha Indah. Sungguh cantik alam ciptaan Tuhan ini sehingga tak salah jika disebut sebagai surga-Nya Argopuro. Kami tiba pukul 16.52 WIB dan memutuskan untuk membuat camp di dalam shelter karena disini tempatnya lebih aman. Beberapa anggota yang lain turun menuju sungai untuk mengambil selada air karena disini terkenal dengan selada airnya. Benar saja, begitu kami sampai bawah, terlihat selada air yang tumbuh subur. Air sungainya juga sangat jernih, bening seperti kaca. Usai mendirikan camp kami masak bersama – sama. Kali ini tidak terlalu lama karena memang jumlah anggota yang sudah berkurang banyak. Setelah masakan selesai dilanjutkan dengan makan, evaluasi dan breafing seperti biasanya. Karena kami lelah, usai breafing kami segera beristirahat menuju tenda masing – masing.
Kamis, 18 Agustus 2016
            Kami bangun yakni pukul 04.17 WIB dan masak bersama seperti malam sebelumnya. Setelah matahari mulai muncul dari balik bukit beberapa diantara kami kembali turun ke sungai untuk MCK maupun berfoto. Kami betah berlama – lama di mata air Cikasur ini karena melihat airnya yang begitu jernih dan menyegarkan. Pukul 06.53 WIB kami segera kembali ke tenda untuk makan pagi dan packing. Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, kami sempat berfoto bersama dan melakukan streaching agar pergerakan kami lebih lancar. Kami juga memasang plakat disini. Plakat himbauan ini berisi ajakan kepada para pendaki agar mencintai lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Plakat himbauan kami pasang di atap shelter sehingga bisa terbaca dengan jelas. Setelah memasang plakat, kami melanjutkan pergerakan dengan target sampai di Mata Air 1. Sepanjang pergerakan, kami mengambil sampah – sampah yang berserakan di sepanjang jalan dan kami kumpulkan dalam kantong plastik. Banyak sampah plastik yang berceceran di sepanjang jalan. Ternyata masih banyak pendaki yang belum memiliki kesadaran untuk menyimpan sampahnya dan tidak membuang sampahnya secara sembarangan. Kami beristirahat siang di Alun – Alun Kecil pada pukul 11.58 WIB. Disini kami menjumpai banyak Lutung yang sepertinya menyadari keberadaan kami. Yang sedikit disayangkan, tempat ini seakan digunakan sebagai “tempat sampah” oleh para pendaki. Banyak sekali tumpukan sampah plastik yang berceceran di sekitar sini. Kami lalu mengumpulkan sampah – sampah yang ada disini ke dalam kantong plastik. Awalnya sampah – sampah tersebut akan kami bakar di tempat ini, namun karena sebagian besar sampah tersebut basah akhirnya kami memutuskan untuk membawa sampah turun.
            Usai kegiatan bersih – bersih kami memutuskan untuk melakukan istirahat dan makan siang. Setelah melakukan makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan kami tetap mengambil sampah yang dibuang sembarangan oleh para pendaki. Kami sampai di Mata Air 2 pukul 12.46 WIB , kami berhenti sejenak untuk mengambil air karena persediaan air minum kami sudah habis. Disini kami kembali berunding untuk menentukan apakah kita menginap sehari lagi atau langsung turun menuju pos pendakian Baderan. Karena saat sampai di Mata Air 2 ini masih siang, kami memutuskan untuk langsung turun ke pos Baderan, dengan catatan perkiraan kami sampai pada malam hari. Kami lalu kembali meneruskan pergerakan. Semua terlihat bersemangat karena akhirnya bisa segera pulang ke rumah. Rombongan akhirnya terpecah menjadi 2 tim. Kami tidak sering berhenti untuk istirahat seperti sebelumnya. Hanya berhenti sebentar di dekat batas daerah suaka margasatwa untuk minum dan mengistirahatkan kaki sejenak. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali hingga matahari perlahan – lahan mulai bersembunyi dan digantikan rembulan. Perjalanan kami telah sampai pada Perkebunan warga ketika maghrib datang. Kami berhenti sejenak untuk menghormati adzan maghrib sambil menyiapkan senter. Selang 10 menit perjalanan dilanjutkan kembali. Pergerakan malam hari ini sedikit lebih lambat dikarenakan ada banyak persimpangan pada jalur yang dilalui sehingga membutuhkan waktu untuk mengingat – ingat jalur mana yang harus dipilih. Akhirnya, kami memutuskan untuk berhenti menenangkan pikiran dan membuat segelas kopi. Selang waktu kemudian, ada warga yang sedang menjaga kebunnya dan menjumpai kami sedang beristirahat. Salah satu dari kami ada yang bertanya kepada warga tersebut jalan menuju Pos Baderan. Setelah berbincang-bincang, kami meminta tolong kepada warga tersebut untuk diantarkan pulang sampai di dekat pemukiman penduduk. Sebagai upahnya kami memberikan sisa beras yang kami bawa kepada warga tersebut. Sesampainya di persimpangan jalan dekat sungai, kami berhenti untuk beristirahat sejenak dan mengambil air. Hingga pukul 19.53 WIB, kami akhirnya tiba di pos pendakian Baderan, Situbondo.
            Kami beristirahat di sebuah rumah yang terletak persis di depan kantor BKSDA. Disana kami sudah disambut oleh dua orang anggota biasa Mahapena yang sebelumnya juga melakukan pendakian bersama tim ESH Cozmeed. Kami berunding sebentar untuk menentukan tempat istirahat malam ini. Akhirnya diputuskan bahwa kami beristirahat di rumah salah satu anggota muda yang letaknya tidak terlalu jauh dari Baderan. Beberapa anggota membuat minuman hangat sambil menunggu mobil jemputan yang akan membawa kami ke Besuki. Dua anggota lainnya bergegas menuju kantor BKSDA untuk melaporkan kedatangan kami serta mengumpulkan hasil dari kegiatan bersih – bersih gunung. Tak berselang lama mobil jemputan kami pun datang. Kami segera meletakkan tas carrier kami ke atas mobil dan berpamitan dengan pihak BKSDA. Setelah semua siap, kami meluncur ke rumah teman kami di Kecamatan Besuki.
            Semilir angin malam serta lelah akibat pergerakan hari ini membuat kami cepat terlelap di atas mobil. Kami tiba di rumah teman kami sekitar pukul 22.31 WIB. Kedatangan kami disambut dengan baik oleh orang tua teman kami. Kami lalu merapikan carrier dan bergantian untuk mandi, sementara dua orang membeli konsumsi untuk makan malam kami. Setelah mandi, makan, dan lainnya selesai, kami beranjak tidur.
Jumat, 19 Agustus 2016
            Pagi hingga siang hari ini kami manfaatkan untuk beristirahat sembari menunggu kedatangan tim 1. Rencananya kami akan dijemput setelah waktu sholat Jumat selesai. Beberapa dari kami menyempatkan diri untuk jalan – jalan ke Pelabuhan Situbondo, karena letaknya juga tidak terlalu jauh dari rumah teman kami. Pukul 16.15 WIB rombongan penjemput  baru datang. Kami makan dahulu dan memberi kesempatan kepada anak – anak yang menjemput untuk beristirahat, sambil bertukar cerita tentang perjalanan selama aplikasi. Pukul 18.40 WIB, kami berangkat menuju Sekretariat Mahapena. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam dan tidak ada kendala. Tiba di Sekretariat Mahapena kami beristirahat sejenak sambil menunggu semua anggota lengkap. Setelah dirasa cukup kami menuju ke halaman depan untuk mengucap syukur atas selesainya aplikasi anggota muda Mahapena 2016. Aplikasi kami ditutup dengan tasyakuran yakni memasak ikan bakar bersama, yang sebelumnya sudah dibeli dari Besuki, Situbondo.


Jumat, 05 Agustus 2016




CERITA PERJALANAN KFJ (DIKLATAM Mahapena 2016)

Kegitan dimulai dengan berkumpulnya anggota muda di sekretariat Mahapena. Namun ada dua anggota muda yang sudah terlebih dahulu berangkat ke Taman Nasional Baluran yaitu vian dan misbah,  dan dua orang anggota muda yang tidak mengikuti kegiatan dengan alasan akmel yang sedang sakit dan alief yang mengikuti workshop di Tulungagung. Dan ada empat anggota muda yang masih berhalangan untuk berangkat dikarenakan kuliah  yaitu dona, dimas , dita , dan alan. Setelah semua anggota berkumpul , maka dilakukan doa dan foto bersama yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju Taman Nasional Baluran. Perjalanan ditempuh selama 3jam 30menit dengan mengendarai sepeda motor.
Sesamainya di Taman Nasional Baluran , anggota muda membersihkan camp berupa gazebo di loket masuk taman nasional. Setelah itu tim konsumsi mempersiapkan makanan dan yang lain melanjutkan bersih-bersih. Karena tim lupa membawa kertas minyak , maka tim terpaksa makan menggunakan alas plastik kresek merah. Saat malam hujan turun , sedangkan empat anggota trakhir masih belum datang. Sesampainya mereka di Taman nasional aluran , kegiatan dilanjutkan evaluasi dan briefing dan kemudian istirahat.
Kegiatan yang dijadwalkan pada jam setengah lima molor hingga jm lima. Perjalanan pertama menuju savana Bekol utuk kegiatan pengamatan burung. Setelah pengamatan burung , kegiatan dilanjutkan dengan sarapan. Setelah sarapan selesai , perjalanan dilanjutkan ke hutan pantai Bama untuk melakukan Analisis Vegetasi , dalam melakukan analisis vegetasi , anggta muda di bagi menjadi dua kelompok. Analisis vegetasi yang pertama dlakukan dengan metode berpetak. Setelah analisis vegetasi , kegiatan dilanjutkan dengan ishoma yang dilakukan di tepi pantai Bama. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan analisis vegetasi metode kuadran. Seluruh kegiatan berjalan dengan lancar meski terdapat beberapa barang yang tertinggal.
Setelah  kegiatan analisis vegetasi dilakukan maka anggota muda kembali ke camp untuk melakukan ishoma dan mck yang dilanjutkan dengan evaluasi kgiatan konservasi.








Pengarungan "Olahraga Arus Deras" di Sungai Samir, Asembagus Situbondo (DIKLATAM Mahapena 2016)

 Kegiatan hari ke-0 di mulai dengan karantina anggota muda  yang bertempat di sekretariat Mahapena. Karantina banyak mengalami kemoloran karena banyak faktor , karena jarak rumah dan masih adanya anggota muda yang kuliah. Karantina diikuti oleh 17 anggota muda, Haqqi tidak bisa mengikuti karantina dikarenakan ada acara keluarga. Pada hari ini terdapat penambahan agenda yag semula tidak dijadwalkan , yaitu briefing ntuk hari ke-1.
Hari ke-1 , dimulai dengan bangunnya anggota muda untuk melaksankan MCK dan ibadah yang kemudian dilanjutkan dengan persiapan perjalanan. Sebelum melakukan seluruh rangkaian kegiatan , kami melakukan foto bersama dan doa. Pada saat pemberangkatan seluruh anggota muda sudah berkumpul lengkap 18 dan kemudian dilanjutkan dengan pemberangkatan. Perjalanan dari sekretariat Mahapena sampai Samir Rafting Situbondo ditempuh selama 2 jam 55 menit dengan istirahat selama 10 menit di Alun-alun Situbondo. Sesampainya di Samir Rafting Situbondo , anggota muda mengurus administrasi terlebih dahulu yang diwakili oleh bendahara dan humas. Kegiatan dilanjutkan dengan mendirikan camp dan ishoma yang dilanjutkan dengan materi ruang oleh coach Yono. Dalam materi ruang kita dibekali ilmu tentang alat yang digunakan dalam pengarungan. Selain itu materi ruang juga diselingi dengan game supaya anggota muda tidak merasa bosan dan mengantuk. Dalam pengenalan alat anggota muda juga diajarkan bagaimana cara yang benar dalam memompa perahu dan mencoba mengangkat perahu sendiri. Setelah materi ruang selesai kegiatan dilanjutkan sesuai dengan agenda kegiatan.
Hari ke-2 , diawali dengan bangun , ishoma , dan MCK. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan stretching dan jalan-jalan di area base camp Samir Rafting yang berupa punggungan dan lembahan dan dilanjutkan dengan materi lapang pra-pengarungan. Materi lapang diawali dengan usaha yang harus dilakukan apabila perahu mengalami kekurangan udara (kempes) , yaitu dengan cara meniup perahu. Kemudian anggota muda harus membawa sendiri peahunya ke tempat latihan. Selanjutnya anggota muda harus berenang melawan arus sungai untuk menuju titik yang telah ditentukan dan dilanjutkan dengan materi mendayung , fliplop, dan rescue. Latihan dilaksanakan sampai ishoma siang. Setelah itu dilanjutkan dengan pengarungan. Saat pengarungan anggota muda dibagi menjadi tiga team. Pengarungan diawali dengan perjalanan menuju titik start dengan menaiki mobil pick-up dan hi-line. Sebelum pengarungan anggota muda berdoa dan memompa perahu. Di kilo meter pertama , team melakukan pengarungan tanpa arahan dan pendamping, setelah itu team mendapat pengarahan dari coach dan dilanjutkan pengarungan sampai kilometer ketiga. Di kilometer ketiga coach naik ke perahu untuk memberikan pelatihan secara langsung bagaimana dan apa yang harus dilakukan oleh skiper. Coach mendampingi hanya sampai seratus meter setelah jeram macan. Kemudian  team dilepas lagi sampai base camp dua. Di basecam dua , anggota muda melakukan ishoma dan bermain flying fox. Setelah puas bermain flying fox pengarungan dilanjutkan sampai garis finish. Sesampainyadi garis finish  seluruh team merayakan finish dengan body rafting dan bermain air. Kemudian team mengangkat perahu kembali ke base camp. Setelah pengarungan kegiatan dilanjut dengan MCK dan ishoma. Kegiatan pengarungan mengalami sedikit kemoloran sehingga seluruh kegiatan selanjutnya juga mengalami kemoloran. Setelah ishoma dan MCK kegiatan dilanjutkan dengan pembongkaran camp , packing, dan persipan pulang. Sebelum pulang team berfoto dengan keluarga Samir Rafting Situbondo. Dalam perjalanan pulang terdapat sedikit hambatan karena team pendamping mengalami kecelakaan di pertigaan kota Situbondo sehingga perjalan pulang memakan waktu sedikit lebih lama. Sesampainya di sekretariat mahapena anggota muda melakukan syukur dan dilanjutkan dengan evaluasi dan briefing. Setelah itu seluruh anggota muda pulang ke kediaman masing-masing.




Sebuah Pemanjatan di Tebing Sepikul Kec. Pakusari Jember (DIKLATAM Mahapena 2016)

                Tebing Sepikul, Kecamatan Pakusari, Jember, merupakan tempat dimana kami Camar Muda Mahapena memenuhi tanggung jawab untuk menyelesaikan serangkaian acara Diklatam 2016. Selain mengasah ilmu, tebing curam ini juga salah satu wahana uji nyali dimana sebagian besar dari kami, hal ini merupakan pengalaman pertama yang pastinya tidak akan pernah kami lupakan .Sebelum bercerita lebih jauh, kami akan mengenalkan saudara-saudara kami di Camar Muda Mahapena. Dimulai dari  Aa’ (Vian), Auro (Aulia), Renita, Ega, Nana, Alan, Hasan, Ejak (Nurshiha), Riska, Mia, Akmel, Dita, Haqqi, Rizal, Alief, Dona, Sohep (Misbah) dan Awak (Dimas).
                Awal mulanya kami merencanakan kegiatan ini dengan membuat rencana operasional yang kami susun bersama saudara-saudara Anggota Muda Mahapena yang dibimbing oleh Tim Diklatam (Pedidikan dan Latihan Anggota Muda ) 2016. Dengan perencanaan yang matang kami mempersiapkan berbagai macam peralatan, fisik, mental dan tentunya juga pendanaan demi suksesnya acara Pendidikan dan Latihan Anggota Muda divisi panjat tebing ini.
                Jum’at, 20 Mei 2016 kami mulai mengarantina logistic tim di secretariat Mahapena dipandu oleh panitia bagian logistic yaitu Haqqi. Setelah kami melengkapi perlengkapan logistic untuk panjat tebing barulah Tim Advance yaitu Sohep, Ega, Aa’, Renita, dan Alan berangkat terlebih dahulu ke Tebing Sepikul, Pakusari, Jember untuk mempersiapkan tempat camp dan membersihkan daerah sekitar tebing. Tepat dibawah Tebing Sepikul kami mendirikan fly sheet sebanyak dua buah untuk kami tempati selama dua malam. Tepat pada pukul 17.00 tempat camp telah berdiri tegak dan siap untuk ditempati. Sembari menunggu kedatangan anggota Camar Muda yang lain, kami menikmati angin malam dan keindahan tebing Sepikul ditemani kopi panas buatan Sohep.
Karena beberapa anggota Camar Muda yang masih kuliah hingga malam dan beberapa anggota sie konsumsi yang  masih membeli makan malam, sehngga mereka  baru tiba di Tebing Sepikul pada pukul 22.00.Setelah semua berkumpul tiba di Tebing Sepikul, kami langsung menikmati makan malam yang telah disiapkan oleh Tim Konsumsi (Nana, Auro, Dona). Setelah makan malam selesai, kami segera memulai kegiatan evaluasi untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kami lakukan sebelumnya serta briefing agar acara inti dari Diklatam 2016 divisi panjat tebing dapat berjalan sesuai rencana. Usai evaluasi dan briefing kami langsung istirahat malam agar kondisi fisik tetap terjaga. Malam semakin larut, tapi camar muda masih banayak yang  terjaga. Bukan dingin yang membuat kami susah untuk tidur, tetapi suara nyamuk yang menganggu dan tusukan nyamuk yang membuat badan kami gatal-gatal. Belum lagi banyaknya semut yang menggigit sehingga kami kurang istirahat dan baru bisa tidur lelap sekitar pukul 01.00.
Pukul 04.00 kami bangun dan tim konsumsi mulai menyiapkan makanan untuk sarapan. Tetapi saat memasak tim konsumsi mengalami sedikit masalah yaitu kurangnya kompor untuk memasak. Hal ini membuat kegiatan setelahnya mengalami kemunduran. Pemanjatan dimulai pukul 08.00  pagi dimulai dari panjat sport dan prusiking, Panas  matahari pagi itu begitu menyengat dan membuat tebing menjadi sangat panas. Memegang tebing seperti memegang api yang membara, Namun itu tidak mematahkan semangat kami.  Soheb dan Aa’ dapat menaklukan tebing yang panas itu. Seperti tak mau kalah, yang lain pun mencoba menaklukan tebing tersebut namun belum mencapai top. Karena kondisi tebing yang begitu panas,akhirnya kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Namun untuk kegitatan prusiking tetap dilanjutkan. Karena waktu mulai menunjukkan waktu istirahat, kami mulai melakukan ishoma. Selesai ishoma kami melanjutkan kegiatan kami kembali. Banyak sekali peristiwa lucu yang terjadi  salah satunya adalah saudara kami yaitu  Mia, ia memerlukan empat orang back up untuk dapat naik menuju point pertama. Emapt lelaki perkasa itu adalah Soheb, Aa’, Haqqi dan Awak. Namun berkat dorongan berupa semangat,  Mia pun berhasil mengalahkan rasa takutnya. Karena hari semakin gelap, Mia adalah pemanjat terakhir untuk hari pertama. Tim konsumsi mulai masak untuk makan malam dan yang bertugas melakukan komunikasi memberi kabar ke secretariat Mahapena dan yang lainnya membersihkan diri lalu sholat.
                Hari kedua, pagi harinya hampir sama dengan pagi sebelumnya yaitu memasak, komunikasi dan mck. Karena evaluasi tadi malam, tim konsumsi bangun lebih awal dan melakukan beberapa cara agar  memasak bisa lebih cepat. Pemanjatan pun bisa dilakukan lebih awal, dimulai dari panjat sport. Sebenarnya jadwal kegiatan hari kedua yaitu panjat artificial, namun karena dihari pertama  panjat sport belum selesai jadi panjat sport di selesaikan terlebih dahulu. Untuk hari kedua panjat sport dan jumar pun selesai. Saat panjat artificial, terjadi kecelakaan yang dialami saudara kami, Ega. Hal itu berawal saat Awak melakukan panjat artificial sampai runner 1, tanpa disengaja hammer yang ia bawa  jatuh. Ega yang berada tepat dibawahnya langsung terkena hammer dan membuat kepalanya berdarah. . Ega langsung di bawa ke puskesmas terdekat ditemani mas Arleng. Seketika itu camar muda tercengang, takut, kaget, dan merasa kasihan. Setelah kejadian tersebut semua kegiatan dihentikan sejenak. Dan dilanjut lagi sekitar pukul 13.30. Prusik, jumar, dan sport telah selesai dihari kedua, kegiatan yang belum selesai adalah artificial. Menurut kesepakatan bersama untuk kegiatan artificial dilanjut tanggal 31 Mei 2016.

                Hari ke tiga tanggal 31 Mei 2016. Dari secret mahapena camar muda berangkat ke sepikul pukul 06.00. Sebelumnya camar muda melakukan karantina anggota pada malam 30 Mei agar tidak telat saat pemberangkatan. Sampai di tebing sepikul camar muda langsung melakukan pemanasan dan siap untuk memanjat. Disaat itulah tim logistic menyadari bahwa carrabiner yang di packing itu kurang, jadi secepat mungkin Aa’ balik ke sekret untuk mengambil carrabiner itu. Setelah Aa’ sampai dengan carrabiner yang dibawa camar  muda langsung menuju tebing artificial untuk mulai memanjat. Saaat kegaitan berlanjut, lagi lagi dikejutkan dengan kejadian dengan orang yang sama. Kali ini kaki ega tertusuk batang rumput alang-alang. Duuhhhh, kasihan sekali nasib mu kak. Hari sudah berjalan begitu cepat dan akhirnya panjat artificial pun selesai. Semua alat-alat yang dibawa dikumpulkan untuk dilist. Terjadi kendala saat pengecekan barang, yaitu list logistic hilang sehingga pengecekan barang tidak begitu maksimal. Setelah merasa lengkap semua alat-alat di packing dan camar muda pulang kembali ke secret. Sampai secret camar muda langsung melakukan syukur, evaluasi dan breafing. Keesokan harinya setelah logistic di cek oleh tim logistic ternyata ada dua alat yang hilang yaitu carrabiner. Dan camar muda harus mengganti carrabiner yang hilang itu. Jadi ini lah cerita perjalanan di tebing sepikul yang telah kami lalui .Banyak cerita dan pengalaman indah didalamnya yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran.